Indonesia Hadapi Tantangan DBD, Target Nol Kematian Dicanangkan

  


JAKARTA – Setelah 58 tahun sejak kasus demam berdarah dengue (DBD) pertama kali tercatat di Indonesia, penyakit yang disebabkan virus dengue masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Pemerintah menargetkan nol kematian akibat dengue pada 2030, yang membutuhkan peran bersama pemerintah, tenaga kesehatan, lintas sektor, dan masyarakat.


Kasus DBD pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1968 melalui kejadian luar biasa (KLB) di Jakarta dan Surabaya. Saat itu tercatat 58 kasus dengan 24 kematian. Sejak itu, penanganan DBD terus berkembang dan mampu menekan tingkat kematian hingga di bawah 1 persen. 


Namun, DBD masih menjadi ancaman sepanjang tahun dan dapat menyerang siapa saja. Studi Burden of Disease Universitas Gadjah Mada memperkirakan lebih dari 2 juta rawat inap akibat dengue pada 2024, dengan beban ekonomi hampir Rp9 triliun. 


Dokter sekaligus kreator konten, dr. Gia Pratama Putra, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap DBD sebagai penyakit biasa.


“DBD pada awalnya sulit dibedakan dari demam biasa, tetapi kondisi pasien dapat memburuk cepat. Karena itu, keluarga perlu mengenali tanda bahaya dan segera mencari pertolongan medis. Jangan sampai DBD dianggap sebagai hal biasa.”


Menurutnya, tanda bahaya yang perlu diwaspadai antara lain nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh sangat lemas, gelisah, hingga penurunan kesadaran. Penanganan yang cepat dan tepat penting untuk mencegah kondisi pasien menjadi lebih berat. 


Gia juga menekankan bahwa pencegahan harus dilakukan sejak sebelum pasien membutuhkan perawatan di rumah sakit.


“Kemenangan terbesar sebenarnya terjadi jauh sebelum pasien sampai ke IGD. Pencegahan tetap menjadi perlindungan pertama. Setiap keluarga dapat berperan dengan menjalankan 3M Plus secara konsisten, mengurangi paparan gigitan nyamuk, memperhatikan lingkungan, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai pilihan pencegahan lainnya, termasuk vaksinasi dengue.” 


Country Head Malaysia & Indonesia, Takeda, Simon Gallagher, mengatakan dampak DBD tidak hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga seluruh keluarga.


DBD tidak hanya berdampak pada pasien. Ketika satu orang sakit, seluruh keluarga ikut merasakan dampaknya, mulai dari kekhawatiran, waktu yang digunakan untuk merawat, hingga beban finansial. Karena itu, perjalanan menuju nol kematian akibat dengue perlu menempatkan keluarga sebagai bagian penting dari upaya pencegahan.


Ia menambahkan, pencapaian target nol kematian akibat dengue pada 2030 membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.


Takeda berkomitmen untuk terus menjadi mitra pemerintah, tenaga kesehatan, asosiasi medis, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat edukasi serta akses terhadap pencegahan dengue. Target 2030 dapat semakin dekat apabila setiap pihak mengambil peran dan bergerak bersama.


Indonesia saat ini memperkuat pengendalian dengue melalui Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029. Upaya tersebut mencakup penguatan surveilans, deteksi dini, tata laksana kasus, pengendalian vektor, pengelolaan lingkungan, teknologi Wolbachia, vaksinasi dengue, serta pelibatan masyarakat. 


Setelah puluhan tahun menghadapi DBD, masyarakat kini memiliki lebih banyak pengetahuan dan pilihan pencegahan. Karena itu, upaya menuju nol kematian akibat dengue pada 2030 perlu dimulai dari tindakan sederhana di tingkat keluarga.


Kenali tanda bahaya, jalankan 3M Plus, lindungi diri dari gigitan nyamuk, dan segera cari pertolongan medis bila diperlukan. Jangan menunggu DBD datang—lindungi diri dan keluarga mulai sekarang.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama